
TL;DR
Ada dua lafadz doa berbuka puasa yang paling banyak dikenal. Pertama, “Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruuqu wa tsabatal ajru insyaallah” dari riwayat Abu Dawud, yang statusnya hasan (baik) dan dianggap lebih shahih oleh banyak ulama. Kedua, “Allahumma laka shumtu wa bika aamantu” yang lebih populer di Indonesia tapi sanadnya dianggap lemah oleh sebagian ahli hadis. Memahami perbedaan keduanya membantu kita memilih bacaan yang sesuai.
Menjelang azan Maghrib di bulan Ramadan, banyak yang langsung mengucapkan doa sebelum meneguk air putih pertama. Tapi tidak semua tahu bahwa ada perbedaan pendapat di kalangan ulama soal lafadz mana yang lebih kuat dasarnya. Bukan untuk membingungkan, justru memahami hal ini membantu kita beribadah dengan lebih sadar dan berdasar.
Lafadz Doa Berbuka Puasa Riwayat Abu Dawud
Doa berbuka puasa yang dianggap paling kuat sanadnya oleh para ulama hadis adalah:
Arab: ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
Latin: Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruuqu wa tsabatal ajru insyaallah.
Artinya: “Telah hilang dahaga, telah basah urat-urat, dan pahala telah ditetapkan insya Allah.”
Doa ini bersumber dari hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan bacaan ini ketika berbuka. Hadis ini tercantum dalam kitab Abu Dawud nomor 2357 dan dinilai hasan oleh sejumlah ahli hadis, termasuk Syaikh Al-Albani. Menurut Almanhaj, doa inilah yang paling kuat dasar riwayatnya di antara lafadz-lafadz doa berbuka yang ada.
Lafadz Doa Berbuka Puasa yang Populer di Indonesia
Di Indonesia, doa berbuka yang paling sering diajarkan dan diucapkan adalah:
Arab: اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ
Latin: Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘ala rizqika afthartu, birahmatika yaa arhamar raahimiin.
Artinya: “Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa, kepada-Mu aku beriman, dengan rezeki-Mu aku berbuka, dengan rahmat-Mu wahai Yang Maha Pengasih.”
Doa ini sangat dikenal dan sudah diajarkan di banyak sekolah serta pesantren. Namun, ada catatan penting: sebagian ulama menganggap hadis yang menjadi landasan doa ini berstatus lemah atau dhaif dari sisi sanad. Ini bukan berarti doa ini dilarang dibaca, tapi lebih kepada status keilmiahannya sebagai hadis yang perlu diketahui.
Baca juga: Kekurangan Produksi Massal yang Perlu Dipahami
Lafadz Pendek: Allahumma Laka Shumtu
Ada juga versi yang lebih pendek dari doa kedua:
Arab: اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ
Latin: Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthartu.
Artinya: “Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa dan dengan rezeki dari-Mu aku berbuka.”
Versi ini lebih singkat dan mudah diingat. Statusnya sama dengan versi panjangnya, yaitu masih diperdebatkan dari sisi kekuatan sanadnya oleh para ulama hadis.
Mana yang Lebih Dianjurkan?
Berdasarkan kajian hadis, doa “Dzahaba dzhamau” dari riwayat Abu Dawud lebih dianjurkan karena kualitas sanadnya lebih kuat. Ini adalah posisi yang dipegang oleh sejumlah ulama kontemporer, termasuk Syaikh Al-Albani yang dikenal sangat ketat dalam penilaian hadis. Menurut KonsultasiSyariah.com, tidak ada larangan membaca doa “Allahumma laka shumtu”, hanya saja perlu diketahui bahwa ini bukan termasuk hadis yang kualitasnya setara dengan riwayat Abu Dawud tersebut.
Praktisnya, banyak ulama dan lembaga keagamaan mengajarkan keduanya. Yang terpenting adalah kekhusyukan dan kesadaran makna ketika membacanya, bukan sekadar melafalkan sebagai kebiasaan tanpa makna.
Kapan Waktu yang Tepat Membaca Doa Berbuka
Ada perbedaan kecil antara ulama soal kapan tepatnya doa ini dibaca. Berdasarkan makna doa “Dzahaba dzhamau” yang menggunakan kata kerja lampau (“telah hilang dahaga”, “telah basah urat-urat”), sebagian ulama berpendapat doa ini dibaca setelah meneguk air atau makanan pertama, bukan sebelumnya.
Praktik yang umum dan paling mudah dijalankan: dengarkan azan Maghrib, ucapkan doa berbuka, lalu mulailah makan. Tidak ada ketentuan keras soal ini, dan keduanya dapat dibenarkan. Yang lebih penting adalah tidak melewatkan doa sama sekali saat berbuka.
Adab Saat Berbuka Puasa
Membaca doa berbuka adalah salah satu adab, tapi bukan satu-satunya. Sunah Rasulullah mengajarkan untuk berbuka dengan kurma terlebih dahulu, lalu air putih. Jika kurma tidak tersedia, bisa diganti dengan yang manis-manis atau air putih saja.
Bersegera berbuka ketika waktu Maghrib tiba juga merupakan sunnah. Rasulullah bersabda bahwa umatnya senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka. Ini bukan soal terburu-buru makan, tapi tentang tidak menunda-nunda yang sudah menjadi hak kita setelah seharian berpuasa.
Berbuka dalam keadaan tenang dan bersyukur, bersama keluarga jika memungkinkan, adalah kondisi ideal yang selaras dengan semangat Ramadan. Momen berbuka bukan hanya soal mengisi perut, tapi juga jeda untuk merenungkan nikmat yang sudah diberikan sepanjang hari.
Keutamaan Berdoa Saat Berbuka
Waktu berbuka puasa termasuk salah satu momen yang doa di dalamnya dikabulkan. Ini disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan sejumlah perawi lain, bahwa tiga golongan yang doanya tidak tertolak salah satunya adalah orang yang berpuasa ketika berbuka. Menurut Detik Hikmah, ini menjadikan momen berbuka sebagai waktu yang sangat tepat untuk menyampaikan hajat dan permohonan, bukan sekadar rutinitas membaca lafadz.
Artinya, selain mengucapkan lafadz doa berbuka, tidak ada salahnya menambahkan permohonan pribadi di momen yang sama. Tidak perlu bahasa Arab yang fasih, doa dalam bahasa Indonesia pun diterima selama datang dari hati yang tulus.
Mengetahui lafadz doa berbuka puasa yang shahih tidak harus mempersoalkan doa yang sudah biasa dibaca. Yang lebih penting adalah terus mengamalkan, memahami maknanya, dan menjadikan momen berbuka sebagai lebih dari sekadar akhir dari waktu menahan lapar dan haus.
